GUS YUSUF

KH Yusuf Chudlori Tegalrejo Magelang

Habib Syekh

Habib Syekh Solo bersama Gus Yusuf

Peduli Merapi

Penyerahan Bantuan peduli merapi

FASTA VAGANZA

Fasta vaganza dalam rangka Khaflah API Tegelrejo bersama band Five Minutes

Senin, 28 Mei 2012

JELANG WAISAK, Wisatawan ke Candi Mendut Meningkat


Magelang Kab (Fast FM) – Jelang peringatan Tri Hari Suci Waisak 2566, jumlah pengunjung ke Candi Mendut di Kabupaten Magelang, meningkat dari sebelumnya. Jika sebelumnya hanya berkisar 60 pengunjung, kini mencapai 100 pengunjung setiap harinya. Kebanyakan mereka merupakan wisatawan manca negara yang berasal dari Asia Timur seperti Jepang, Korea, Hongkong dan Taiwan.

“Dari eropa dan amerika ada, tapi jarang dan tidak sebanyak dari Asia Timur. Sedang pengunjung lokal, hampir tidak ada. Hanya waktu-waktu tertentu, seperti libur sekolah saja,” kata Joko, petugas tiketing di Candi Mendut kepada wartawan Jumat (4/5).

Disebutkan, jumlah pengunjung mulai 1 Mei lalu selalu tembus di angka 100. Pada Selasa (1/5) kemarin misalnya, mencapai 112 pengunjung, Rabu (149) dan Kamis (105 pengunjung). Sementara pada awal April lalu, pada tanggal yang sama mencapai 117, 109 dan 81 pengunjung. Sedang Maret, hanya mencapai 61,101 dan 99 pengunjung setiap harinya.

“Biasanya, menjelang detit-detit Waisak, jumlah wisatawan manca negara akan naik dratis. Umumnya, mereka ingin melihat dan mengabadikan prosesi Waisak hingga kirab dari Candi Mendut, Pawon hingga Candi Borobudur,” terangnya.

Sementara itu, pemilik sejumlah home stay di sekitar Candi Mendut, mengeluhkan sepinya order jelang peringatan Waisak tahun ini. “Sepi, mas. Mungkin karena tahun ini, yang menyelenggarakan Walubi bukan KASI,” kata Sugiharjo, warga Mendut, pemilik rumah yang sering dipesan umat Budha saat memperingati Waisak.

Diakui, Walubi memiliki penginapan dan home stay sendiri, di sekitar Candi Borobudur. “Jadi kalau panitiannya dipegang Walubi, home stay diwilayah Mendut, sepi. Sebaliknnya, jika dipegang KASI, disekitar Mendut, semua penginapan dan home stay bahkan rumah penduduk, habis  dipesan,” ungkapnya.

Zubari Sutanto, Lurah Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid menyebutkan, diwilayahnya terdapat 12 home stay. Namun hingga saat ini, baru sekitar empat home stay yang dipesan, yakni miliki Sudiah, Nurhadiyanto, Yuriah dan Muklasin. “Untuk lainnya, kami belum mendapat laporan. Namun kami akui, sejak beberapa tahun ini, pemilik home stay diwilayah kami sepi order. Bahkan tahun kemarin, hampir tidak ada yang pesan. Karena semua terkonsentrasi di sekitar Candi Borobudur,” imbuhnya. (Ahmad Muslim) Foto: Suara Merdeka


Selengkapnya...


Kemiskinan Rakyat Akibat Salah Urus


Magelang Kab (Fast FM) – Kemiskinan rakyat terjadi bukan datang dengan tiba-tiba, tapi lebih disebabkan karena salah urus didalam pengelolaan kekayaan negara oleh pemerintah. Salah kelola sistem perekonomian bangsa yang panjang dan sistemik itu, hasilnya menyuguhkan kemiskinan dan kemelaratan bagi sebagian masyarakat Indonesia.

Hal itu dikatakan Susilo Spt, Ketua DPRD Kabupaten Magelang, dalam dialog publik gerakan nasional (gernas) Pasal 33 di GOR Gemilang, Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Kamis (3/5). Kegiatan diselenggarakan oleh Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Kabupaten Magelang, dihadiri sekitar 100 peserta perwakilan dari mahasiswa, tokoh masyarakat, LSM dan anggota SRMI sendiri.

Selain Susilo, pembicara lain yang dihadirkan pada dialog itu adalah Wakil Ketua DPC PDIP Kabupaten Magelang, H Kuswan Haji SH MH. Kemudian, Bupati Magelang yang diwakili Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi dan UMKM, drs H Edy Susanto serta Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD), Agus Jabo Priyono.

Lebih lanjut dikatakan Susilo, untuk mengatasi hal itu, pihaknya menawarkan beberapa solusi. Diantaranya melakukan penyadaran bersama terhadap masyarakat khususnya pelaku ekonomi, penguasa maupun pejabat yang terus menerus dan intensif akan bahaya imperialis dan kapitalis. Selain itu, membangkitkan semangat nasionalisme dengan menomorsatukan ‘cinta tanah air’ yang belakangan mulai memudar. “Terpenting adalah meyakinkan bahwa gerakan perubahan untuk keluar dari jeratan imperialis dan kapitalis itu, menjadi sebuah tuntutan illahiyah,” tegasnya.

Sementara Kuswan Haji mengatakan, dalam pemberdayaan masyarakat, penegakan hukum dan keadilan dalam UU 1945 secara konstitusional harus dilaksanakan secara murni dan konsekuen. “Memberdayaan masyarakat dalam penegakan hukum tidak lain dari upaya dan tindakan yang memberikan cara-cara agar rakyat berkesempatan turut serta partisipasi untuk menjamin agar penegakan hukum terlaksana secara benar dan adil,” imbuhnya.

Sedang Agus Jabo Priyono menegaskan, perlunya gerakan pasal 33 secara nasional itu dilakukan. Tujuannya untuk mengembalikan seluruh kekayaan alam sebesar-besarnya, untuk kemakmuran rakyat.  “Gerakan ini hendak mengingatkan atau meluruskan tujuan berbangsa kita, pada cita-cita revolusi Agustus 1945 dan gagasan para pendiri bangsa. Itninya adalah menghapuskan kolonialisme dan imperialisme, sebagai jalan menuju masyarakat adil dan makmur,” tegasnya.(Ahmad Muslim)


Selengkapnya...


Rangkaian Waisak Dimulai Dengan Pengobatan Gratis


Magelang Kab (Fast FM)- Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (walubi) Siti Hartati Murdaya mengajak orang-orang kaya untuk selalu mengingat hokum karma atau hukum sebab akibat. Hukum ini dinilai tidak dapat dihindari baik di dunia maupun di akhirat.

"Jika berkenan saya ingin mengajak yang kaya dan mampu untuk ingat-ingat terus tentang hukum karma sebagai fakta dalam kehidupan manusia, ujar Hartati saat pembukaan Bakti Sosial Pengobatan Gratis di  Taman Lumbini, Candi Borobudur, Rabu (02/05).

Menurut Hartati, seperti dilansir Suara Merdeka hukum karma adalah hukum alam alam semesta yang berlaku bagi semua agama. Siapa saja yang rajin membuat amal kebaikan maka ia akan memeroleh karma yang baik. Demikian juga jika seseorang senang berbuat jahat dan memberi kesusahan orang lain maka ia akan memeroleh karma buruk.

Karena itu, Walubi menetapkan tema Tri Suci Waisak 2556 BE tahun 2012 ialah Meningkatkan Cinta Kasih dan Welas Asih sesama Umat Manusia. Adapun sub tema yang diangkat adalah menuju pencerahan menjadi manusia yang arif dan bijaksana.

Hartati mengatatak pihaknya menargetkan sebanyak 8.000-10.000 pasien dari keluarga kurang mampu bisa mengikuti pengobatan gratis ini. Pelayanan yang diberikan meliputi operasi katarak, bibir sumbing, bedah minor, cabut dan tambal gigi, sakit umum, anak-anak dan lainnya.

Total dokter yang terlibat sekitar 160 orang. Jumlah ini termasuk dokter yang berdomisili di Magelang. Mereka didukung sebanyak 153 paramedis seperti apoteker, perawat, penata anastesi, petugas laboratorium analis, bidan, mahasiswa perawat dan tim pendukung TNI AU.

Pengobatan gratis ini dibuka oleh Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama (Kemenag) RI Joko Wuryanto mewakili Menteri Agama Surya Dharma Ali yang berhalangan. "Ini merupakan penerapan atau aplikasi ajaran Buddha," kata Joko.

Joko berharap rangkaian kegiatan Waisak ini akan bisa menyebarkan meta karuna yakni sikap welas asih kepada sesama manusia. Selanjutnya lima tokoh agama dari Islam, Buddha, Hindu, Katolik dan Kristen melakukan doa bersama. (Ahmad Muslim)



Magelang Kab (Fast FM)- Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (walubi) Siti Hartati Murdaya mengajak orang-orang kaya untuk selalu mengingat hokum karma atau hukum sebab akibat. Hukum ini dinilai tidak dapat dihindari baik di dunia maupun di akhirat.


"Jika berkenan saya ingin mengajak yang kaya dan mampu untuk ingat-ingat terus tentang hukum karma sebagai fakta dalam kehidupan manusia, ujar Hartati saat pembukaan Bakti Sosial Pengobatan Gratis di
Taman Lumbini, Candi Borobudur, Rabu (02/05).


Menurut Hartati, seperti dilansir Suara Merdeka hukum karma adalah hukum alam alam semesta yang berlaku bagi semua agama. Siapa saja yang rajin membuat amal kebaikan maka ia akan memeroleh karma yang baik. Demikian juga jika seseorang senang berbuat jahat dan memberi kesusahan orang lain maka ia akan memeroleh karma buruk.


Karena itu, Walubi menetapkan tema Tri Suci Waisak 2556 BE tahun 2012 ialah Meningkatkan Cinta Kasih dan Welas Asih sesama Umat Manusia. Adapun sub tema yang diangkat adalah menuju pencerahan menjadi manusia yang arif dan bijaksana.


Hartati mengatatak pihaknya menargetkan sebanyak 8.000-10.000 pasien dari keluarga kurang mampu bisa mengikuti pengobatan gratis ini. Pelayanan yang diberikan meliputi operasi katarak, bibir sumbing,
bedah minor, cabut dan tambal gigi, sakit umum, anak-anak dan lainnya.


Total dokter yang terlibat sekitar 160 orang. Jumlah ini termasuk dokter yang berdomisili di Magelang. Mereka didukung sebanyak 153 paramedis seperti apoteker, perawat, penata anastesi, petugas laboratorium analis, bidan, mahasiswa perawat dan tim pendukung TNI AU.


Pengobatan gratis ini dibuka oleh Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama (Kemenag) RI Joko Wuryanto mewakili Menteri Agama Surya Dharma Ali yang berhalangan. "Ini merupakan penerapan atau aplikasi ajaran Buddha," kata Joko.


Joko berharap rangkaian kegiatan Waisak ini akan bisa menyebarkan meta karuna yakni sikap welas asih kepada sesama manusia. Selanjutnya lima tokoh agama dari Islam, Buddha, Hindu, Katolik dan Kristen melakukan doa bersama. (Ahmad Muslim)
Selengkapnya...


Laskar Kretek Tolak Usulan Bibit Waluyo




Temanggung (Fast FM)- Sekitar 400-an Laskar Kretek Kabupaten Temanggung menghadang Gubernur Jateng, Bibit Waluyo keluar dari komplek Pemkab Temanggung. Mereka meminta agar Bibit bersedia menemui mereka. Dan mengklarifikasi usulannya tentang pencanangan kawasan desa bebas rokok.

Aksi unjuk rasa ratusan Laskar Kretek ini dilakukan saat Bibit rapat bersama SKPD Temanggung, usai memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional di Alun-alun Temanggung. Termasuk bersama para kepala desa se-Temanggung guna mensosialisasikan kemungkinan membuat kawasan desa bebas rokok.

Aksi para petani tembakau ini dikawal ketat puluhan petugas kepolisian. Pintu gerbang masuk menuju komplek pemkab ditutup rapat dan dipagar betis. Sebagian peserta aksi yang mencoba memaksa masuk, sempat saling dorong dengan peserta lain yang menolak. Namun aksi akhirnya berjalan tertib dan mereka membubarkan diri.

Menurut Koordinator Aksi Lapangan, Musolim, mereka beraksi untuk meminta klarifikasi gubernur. Sebelumnya Bibit mengusulkan pencanangan desa bebas rokok. Usulan tersebut, dinilai akan merugikan dan mematikan kegiatan petani tembakau. Bibit dinilai juga sering mengolok-olok  petani tembakau dan menyebut rokok merusak lingkungan.

”Kami menolak untuk diolok-olok terus, dengan sebutan merokok merusak lingkungan dan merugikan kesehatan. Itu sering dikatakan Bibit di berbagai kesempatan. Kami minta ke depan Bibit tidak lagi mengolok-olok dan mendiskiriditkan kami,” katanya (02/05).

Pemerintahan Bibit juga diminta membuat kebijakan menolak RPP Anti Tembakau, sebagaimana telah dilakukan Gubernur Jawa Timur. Bagi petani tembakau, mempunyai prinsip tembakau atau mati. Karena itu akan berjuang dengan cara apapun, guna menolak segala upaya yang bermaksud mematikan kegiatan petani tembakau.

“Kami ingin mendapat perlakuan yang sama sebagaimana petani tanaman lainnya. Tapi kami merasa aturan yang dirumuskan pemerintahan Bibit, ingin membunuh kami sedikit demi sedikit. Bukannya justru dilindungi,” ujar Saeun, salah seorang orator aksi.

Orator yang lainnya, Prayitno menyatakan, usulan pencanangan kawasan desa bebas rokok, bertentangan dengan slogan Bali Deso Mbangun Ndeso milik gubenur sendiri. Karena kalau ada kawasan tersebut, pabrikan rokok tidak akan membeli tembkau lagi. Sehingga kesejahteraan mereka akan menurun karena kegiatan bertaninya terhenti.

“Slogan Bali Deso Mbangun Ndeso harusnya diartikan membangun potensi desa. Di Temanggung potensinya Tembakau sehingga harusnya didukung untuk dikembangkan. Tapi Bibit malah sebaliknya, ingin menghancurkan potensi tembakau itu,” kata Prayitno.

Setelah massa membubarkan diri, Bibit dan rombongannya baru berani ke luar tempat rapat.

Sebelum berangkat ke Semarang, Bibit mengatakan bahwa dirinya merasa tidak pernah mengatakan rokok haram atau melarang menanam tembakau. Dirinya cuman mengatakan warga yang kurang mampu sebaiknya agar mengurangi merokoknya
.
‘’Kalau soal RPP Anti Tembakau, itu sudah pada kebijakan forum pusat (DPR dan Presiden), dan saya belum tahu isi RPP seluruhnya, tapi setahu saya petani masih disilakan menanam tembakau,’’ ungkpanya.

Soal usulannya tentang kawasan desa bebas rokok, Bibit juga menjelaskan hal itu sebenarnya juga baru sebatas keinginannya. Yakni, dirinya ingin mencoba membuat kawasan tersebut dan nanti dilihat terjadi penghematan merokok yang seperti apa. ‘’Apa salah saya ngomong gitu..’’ tegasnya.(Ahmad Muslim) Foto: Antara


Laskar Kretek Sambut Gembira Meninggalnya Menkes


Temanggung (Fast FM)- Sekitar 400-an Laskar Kretek Kabupaten Temanggung menghadang Gubernur Jateng, Bibit Waluyo keluar dari komplek Pemkab Temanggung. Mereka meminta agar Bibit bersedia menemui mereka. Dan mengklarifikasi usulannya tentang pencanangan kawasan desa bebas rokok.

Aksi unjuk rasa ratusan Laskar Kretek ini dilakukan saat Bibit rapat bersama SKPD Temanggung, usai memimpin upacara Hari Pendidikan Nasional di Alun-alun Temanggung. Termasuk bersama para kepala desa se-Temanggung guna mensosialisasikan kemungkinan membuat kawasan desa bebas rokok.

Aksi para petani tembakau ini dikawal ketat puluhan petugas kepolisian. Pintu gerbang masuk menuju komplek pemkab ditutup rapat dan dipagar betis. Sebagian peserta aksi yang mencoba memaksa masuk, sempat saling dorong dengan peserta lain yang menolak. Namun aksi akhirnya berjalan tertib dan mereka membubarkan diri.

Menurut Koordinator Aksi Lapangan, Musolim, mereka beraksi untuk meminta klarifikasi gubernur. Sebelumnya Bibit mengusulkan pencanangan desa bebas rokok. Usulan tersebut, dinilai akan merugikan dan mematikan kegiatan petani tembakau. Bibit dinilai juga sering mengolok-olok  petani tembakau dan menyebut rokok merusak lingkungan.

”Kami menolak untuk diolok-olok terus, dengan sebutan merokok merusak lingkungan dan merugikan kesehatan. Itu sering dikatakan Bibit di berbagai kesempatan. Kami minta ke depan Bibit tidak lagi mengolok-olok dan mendiskiriditkan kami,” katanya (02/05).

Pemerintahan Bibit juga diminta membuat kebijakan menolak RPP Anti Tembakau, sebagaimana telah dilakukan Gubernur Jawa Timur. Bagi petani tembakau, mempunyai prinsip tembakau atau mati. Karena itu akan berjuang dengan cara apapun, guna menolak segala upaya yang bermaksud mematikan kegiatan petani tembakau.

“Kami ingin mendapat perlakuan yang sama sebagaimana petani tanaman lainnya. Tapi kami merasa aturan yang dirumuskan pemerintahan Bibit, ingin membunuh kami sedikit demi sedikit. Bukannya justru dilindungi,” ujar Saeun, salah seorang orator aksi.

Orator yang lainnya, Prayitno menyatakan, usulan pencanangan kawasan desa bebas rokok, bertentangan dengan slogan Bali Deso Mbangun Ndeso milik gubenur sendiri. Karena kalau ada kawasan tersebut, pabrikan rokok tidak akan membeli tembkau lagi. Sehingga kesejahteraan mereka akan menurun karena kegiatan bertaninya terhenti.

“Slogan Bali Deso Mbangun Ndeso harusnya diartikan membangun potensi desa. Di Temanggung potensinya Tembakau sehingga harusnya didukung untuk dikembangkan. Tapi Bibit malah sebaliknya, ingin menghancurkan potensi tembakau itu,” kata Prayitno.

Setelah massa membubarkan diri, Bibit dan rombongannya baru berani ke luar tempat rapat.

Sebelum berangkat ke Semarang, Bibit mengatakan bahwa dirinya merasa tidak pernah mengatakan rokok haram atau melarang menanam tembakau. Dirinya cuman mengatakan warga yang kurang mampu sebaiknya agar mengurangi merokoknya
.
‘’Kalau soal RPP Anti Tembakau, itu sudah pada kebijakan forum pusat (DPR dan Presiden), dan saya belum tahu isi RPP seluruhnya, tapi setahu saya petani masih disilakan menanam tembakau,’’ ungkpanya.

Soal usulannya tentang kawasan desa bebas rokok, Bibit juga menjelaskan hal itu sebenarnya juga baru sebatas keinginannya. Yakni, dirinya ingin mencoba membuat kawasan tersebut dan nanti dilihat terjadi penghematan merokok yang seperti apa. ‘’Apa salah saya ngomong gitu..’’ tegasnya.(Ahmad Muslim)


Selengkapnya...


May Day, Buruh Magelang Datangi Jamsostek



Magelangkab (Fast FM)- Berbagai cara dilakukan buruh dalam merayakan hari buruh sedunia (Mayday) yang jatuh pada 1 Mei, Ratusan buruh yang tergabung dalam  Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Magelang mendatangi Kantor Jamsostek di Pakelan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Mereka minta kepada pimpinan Jamsostek untuk mengusut tuntas kasus klaim fiktif yang dilakukan PT Tata Lestari Rimba Buana di tahun 2011. Klaim fiktif menurut mereka merupakan kejahatan tindak perdata dan pidana.

"Kita DPC SPN Kabupaten Magelang konsisten untuk mengawal kasus ini khususnya yang menyangkut kejahatan tindak pidana," kata ketua DPC SPN Kabupaten Magelang, Suparno.

Karenanya, kepada PT Jamsostek selaku korban diharapkan agar tetap membawa kasus ini ke ranah hukum, jangan dihentikan pada kasus perdatanya saja. "Kedatangan kami kesini bukan untuk unjukrasa, namun untuk menyampaikan dukungan kepada Jamsostek," katanya.

Bendahara SPN Jateng, Rahmad Irianto yang hadir dalam kegiatan itu menyebutkan, di tahun 2011 terjadi 80 kasus kecelakaan kerja di PT Tata Lestari Rimba Buana. Namun 40 persen dari jumlah itu merupakan kasus fiktif, dan perusahaan hanya mengambil keuntungan dari klaim fiktif tersebut. "Ini harus diusut tuntas," tegas Rahmad.

Buruh yang jumlahnya sekitar 500 orang itu mendatangi kantor Jamsostek sekitar pukul 09.30 wib. Mereka tidak turun dari kendaraan karena hanya menyerahkan aduan saja kepada pimpinan PT Jamsostek cabang Magelang, Wanton Satoto.

Atas aduan tersebut, Wanton berjanji akan menindaklanjuti. Ia menyebutkan, saat ini ada sekitar 40 ribu buruh yang terdaftar sebagai peserta Jamsostek yang dilayani di kantornya yang tersebar di berbagai kota antara laun Kota dan kabupaten Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo.

Penjagaan oleh polisi sangat ketat. Ratusan polisi Polres Magelang di siagakan dan berjaga-jaga di depan kantor Jamsostek.

Dari kantor Jamsostek, aksi para buruh dilanjutkan ke kantor Pemkab Magelang dan rumah dinas Bupati. Namun karena sedang ada rapat  persiapan Interhash di tempat tersebut, para buruh pindah ke lapangan drh. Soepardi yang tempatnya bersebelahan dengan rumah dinas bupati. Disana buruh berorasi dan selanjutnya kembali ke kantor pemkab.

Suparno berhasil menemui Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Magelang, Drs. Utoyo untuk menyampaikan 4 tuntutan para buruh. Usai bertemu Sekda, Suparno menemui para buruh dan mengatakan, bahwa Pemkab berjanji akan memenuhi tuntutan UMK sesuai KHL. Ia meminta kepada teman-teman SPN untuk turut memantau perkembangannya, demi kehidupan buruh yang lebih baik. Sekitar pukul 13.00 wib, buruh membubarkan diri. (Ahmad Muslim)


May Day, Buruh Magelang Datangi Jamsostek



Magelangkab (Fast FM)- Berbagai cara dilakukan buruh dalam merayakan hari buruh sedunia (Mayday) yang jatuh pada 1 Mei, Ratusan buruh yang tergabung dalam  Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kabupaten Magelang mendatangi Kantor Jamsostek di Pakelan Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Mereka minta kepada pimpinan Jamsostek untuk mengusut tuntas kasus klaim fiktif yang dilakukan PT Tata Lestari Rimba Buana di tahun 2011. Klaim fiktif menurut mereka merupakan kejahatan tindak perdata dan pidana.

"Kita DPC SPN Kabupaten Magelang konsisten untuk mengawal kasus ini khususnya yang menyangkut kejahatan tindak pidana," kata ketua DPC SPN Kabupaten Magelang, Suparno.

Karenanya, kepada PT Jamsostek selaku korban diharapkan agar tetap membawa kasus ini ke ranah hukum, jangan dihentikan pada kasus perdatanya saja. "Kedatangan kami kesini bukan untuk unjukrasa, namun untuk menyampaikan dukungan kepada Jamsostek," katanya.

Bendahara SPN Jateng, Rahmad Irianto yang hadir dalam kegiatan itu menyebutkan, di tahun 2011 terjadi 80 kasus kecelakaan kerja di PT Tata Lestari Rimba Buana. Namun 40 persen dari jumlah itu merupakan kasus fiktif, dan perusahaan hanya mengambil keuntungan dari klaim fiktif tersebut. "Ini harus diusut tuntas," tegas Rahmad.

Buruh yang jumlahnya sekitar 500 orang itu mendatangi kantor Jamsostek sekitar pukul 09.30 wib. Mereka tidak turun dari kendaraan karena hanya menyerahkan aduan saja kepada pimpinan PT Jamsostek cabang Magelang, Wanton Satoto.

Atas aduan tersebut, Wanton berjanji akan menindaklanjuti. Ia menyebutkan, saat ini ada sekitar 40 ribu buruh yang terdaftar sebagai peserta Jamsostek yang dilayani di kantornya yang tersebar di berbagai kota antara laun Kota dan kabupaten Magelang, Purworejo, Temanggung, dan Wonosobo.

Penjagaan oleh polisi sangat ketat. Ratusan polisi Polres Magelang di siagakan dan berjaga-jaga di depan kantor Jamsostek.

Dari kantor Jamsostek, aksi para buruh dilanjutkan ke kantor Pemkab Magelang dan rumah dinas Bupati. Namun karena sedang ada rapat  persiapan Interhash di tempat tersebut, para buruh pindah ke lapangan drh. Soepardi yang tempatnya bersebelahan dengan rumah dinas bupati. Disana buruh berorasi dan selanjutnya kembali ke kantor pemkab.

Suparno berhasil menemui Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Magelang, Drs. Utoyo untuk menyampaikan 4 tuntutan para buruh. Usai bertemu Sekda, Suparno menemui para buruh dan mengatakan, bahwa Pemkab berjanji akan memenuhi tuntutan UMK sesuai KHL. Ia meminta kepada teman-teman SPN untuk turut memantau perkembangannya, demi kehidupan buruh yang lebih baik. Sekitar pukul 13.00 wib, buruh membubarkan diri. (Ahmad Muslim)
   


Selengkapnya...


VIDEO

ENTER-TAB1-CONTENT-HERE

RECENT POSTS

ENTER-TAB2-CONTENT-HERE

POPULAR POSTS

ENTER-TAB3-CONTENT-HERE
 

Fast Pojok Kota Copyright © 2010 Edited DK Media is Designed by Pak Nano Payaman